BAHAN
PENGAWET MAKANAN
o
Definisi (BTP) Pengawet
Yang
dimaksud BTP Pengawet adalah bahan tambahan pangan yang dapat mencegah atau
menghambat fermentasi, pengasaman atau penguraian dan perusakan lainnya
terhadap pangan yang disebabkan oleh mikroorganisme. Kerusakan tersebut dapat
disebabkan oleh fungi, bakteria dan mikroba lainnya. Kontaminasi bakteria dapat
menyebabkan penyakit yang dibawa makanan (food borne illness) termasuk
botulism yang membahayakan kehidupan.
Pengawet
pangan adalah upaya untuk
mencegah, menghambat pertumbuhan mikroba yang terdapat dalam pangan. Pengawetan
dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu penggunaan suhu rendah, suhu
tinggi, iradiasi atau dengan penambahan bahan pengawet (BTP Pengawet).
Produk-produk pangan dalam kemasan yang diproses dengan panas atau disebut
sterilisasi komersil seperti kornet dalam kaleng atau susu steril dalam kemasan
tetrapak tidak menggunakan bahan pengawet karena proses termal sudah cukup
untuk memusnahkan mikroba pembusuk dan patogen.
o
Tujuan Pengawetan Makanan
Pengawetan pangan
disamping berarti penyimpanan juga memiliki 2 (dua) maksud yaitu :
(1)
Menghambat pembusukan dan
(2) Menjamin mutu awal pangan agar tetap terjaga selama mungkin.
(2) Menjamin mutu awal pangan agar tetap terjaga selama mungkin.
Penggunaan pengawet dalam produk
pangan dalam prakteknya berperan sebagai antimikroba atau antioksidan atau
keduanya. Jamur, bakteri dan enzim selain penyebab pembusukan pangan juga dapat
menyebabkan orang menjadi sakit, untuk itu perlu dihambat pertumbuhan maupun
aktivitasnya.
Jadi, selain tujuan di atas, juga untuk memelihara kesegaran dan mencegah kerusakan makanan atau bahan makanan. Beberapa pengawet yang termasuk antioksidan berfungsi mencegah makanan menjadi tengik yang disebabkan oleh perubahan kimiawi dalam makanan tersebut. Peran sebagai antioksidan akan mencegah produk pangan dari ketengikan, pencoklatan, dan perkembangan noda hitam. Antioksidan menekan reaksi yang terjadi saat pangan menyatu dengan oksigen, adanya sinar, panas, dan beberapa logam.
Jadi, selain tujuan di atas, juga untuk memelihara kesegaran dan mencegah kerusakan makanan atau bahan makanan. Beberapa pengawet yang termasuk antioksidan berfungsi mencegah makanan menjadi tengik yang disebabkan oleh perubahan kimiawi dalam makanan tersebut. Peran sebagai antioksidan akan mencegah produk pangan dari ketengikan, pencoklatan, dan perkembangan noda hitam. Antioksidan menekan reaksi yang terjadi saat pangan menyatu dengan oksigen, adanya sinar, panas, dan beberapa logam.
o
Hal-Hal
Penting Dalam Menggunakan Bahan Pengawet Makanan adalah :
a.
Pilih pengawet yang benar / yang diijinkan
untuk dalam pangan serta telah terdaftar di Badan POM RI.
b.
Bacalah takaran penggunaannya pada penandaan /
label.
c.
Gunakan dengan takaran yang benar sesuai petunjuk
pada label.
d.
Membaca dengan cermat label produk pangan yang
dipilih/dibeli serta mengkonsumsinya secara cerdas produk pangan yang
menggunakan bahan pengawet.
o
Macam
– Macam Bahan Pengawet Makanan Yang Aman Digunakan
Bahan
pengawet makanan menurut asalnya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu bahan
pengawet alami dan pengawet buatan.
1. Pengawet Alami
a.
Gula tebu
Gula tebu memberi rasa manis dan
bersifat mengawetkan. Buah-buahan yang disimpan dalam larutan gula pekat akan
menjadi awet karena mikroorganisme sukar hidup di dalamnya.
b. Gula merah
Selain sebagai pemanis gula merah juga
bersifat mengawetkan seperti halnya gula tebu.
c. Garam
Garam merupakan pengawet alami yang
banyak dihasilkan dari penguapan air laut. Ikan asin dapat bertahan hingga
berbulan-bulan karena pengaruh garam.
d. Kunyit
Kunyit, selain sebagai pewarna, juga
berfungsi sebagai pengawet. Dengan penggunaan kunyit, tahu atau nasi kuning
menjadi tidak cepat basi.
e. Kulit kayu
manis
Kulit kayu manis merupakan kulit kayu
yang berfungsi sebagai pengawet karena banyak mengandung asam benzoat. Selain
itu, kayu manis juga berfungsi sebagai pemanis dan pemberi aroma.
f. Cengkih
Cengkih merupakan pengawet alami yang
dihasilkan dari bunga tanaman cengkih. Selain sebagai pengawet, cengkih juga
berfungsi sebagai penambah aroma.
2. Pengawet Buatan
a.
Asam asetat
Asam asetat dikenal di kalangan
masyarakat sebagai asam cuka. Bahan ini menghasilkan rasa masam dan jika
jumlahnya terlalu banyak akan mengganggu selera karena bahan ini sama dengan
sebagian isi dari air keringat kita. Asam asetat sering dipakai sebagai
pelengkap ketika makan acar, mi ayam, bakso, atau soto. Asam asetat mempunyai
sifat antimikroba. Makanan yang memakai pengawet asam cuka antara lain acar,
saos tomat, dan saus cabai.
b. Benzoat
Benzoat banyak ditemukan dalam bentuk
asam benzoat maupun natrium benzoat (garamnya). Berbagai jenis soft drink (minuman ringan),
sari buah, nata de coco, kecap, saus, selai, dan agar-agar diawetkan dengan
menggunakan bahan jenis ini.
c. Sulfit
Bahan ini biasa dijumpai dalam bentuk
garam kalium atau natrium bisulfit. Potongan kentang, sari nanas, dan udang
beku biasa diawetkan dengan menggunakan bahan ini.
d. Propil galat
Digunakan dalam produk makanan yang
mengandung minyak atau lemak dan permen karet serta untuk memperlambat
ketengikan pada sosis. Propil galat juga dapat digunakan sebagai antioksidan.
e. Propianat
Jenis bahan pengawet propianat yang
sering digunakan adalah asam propianat dan garam kalium atau natrium propianat.
Propianat selain menghambat kapang juga dapat menghambat pertumbuhan bacillus
mesentericus yang
menyebabkan kerusakan bahan makanan. Bahan pengawetan produk roti dan keju
biasanya menggunakan bahan ini.
f. Garam nitrit
Garam nitrit biasanya dalam bentuk
kalium atau natrium nitrit. Bahan ini terutama sekali digunakan sebagai bahan
pengawet keju, ikan, daging, dan juga daging olahan seperti sosis, atau kornet,
serta makanan kering seperti kue kering. Perkembangan mikroba dapat dihambat
dengan adanya nitrit ini. Misalnya, pertumbuhan clostridia di dalam daging yang dapat
membusukkan daging.
g. Sorbat
Sorbat yang terdapat di pasar ada dalam
bentuk asam atau garam sorbat. Sorbat sering digunakan dalam pengawetan
margarin, sari buah, keju, anggur, dan acar. Asam sorbat sangat efektif dalam
menekan pertumbuhan kapang dan tidak memengaruhi cita rasa makanan pada tingkat
yang diperbolehkan.
